Menikah Atau Tidak Sama Sekali!

“Nes…Nes…Nesa…” teriak Ibu dari luar toilet sambil mengetok pintunya.

“Ya, Bu. Ada apa?” jawabku dan balik bertanya.

“Ada teman yang datang” 

“Cowok apa cewek, Bu” tanyaku lagi dengan pertanyaan yang selalu kutanyakan jika ada tamu atau telpon.

“Laki-laki. Cepat sedikit. Nggak baik tamu menunggu terlalu lama”

“Iya, Bu”.

            Laki-laki? Siapa ya? bisikku dalam hati. Sekarang sudah pukul 20.00 WIB lewat. Kalau Yoan yang datang tidak mungkin. Sebab dia masih di Bandung. Apalagi Ibuku ada di rumah. Pasti beliau akan mengatakan aku sudah tidur atau alasan dibuat-buat lainnya, jika mantan kekasihku itu datang. Meskipun kami sudah lama putus, namun kami sepakat untuk menjadi teman. Jangan-jangan Yoan sudah pulang ke Padang dan saat ini sedang memegang bunga mawar sambil duduk di teras rumah. Menggunakan keahlian merayunya pada Ibu agar kami dapat bertemu. Lalu menunggu dengan satu kejutan lagi, yang tak terduga. Itulah salah satu kebiaasaannya dari SMA. Dengan segala rasa penasaran, kupercepat langkah menuju ruang depan.

            Cukup lama aku tertegun saat melihat tiga orang laki-laki yang kira-kira sebaya denganku,  sedang duduk menanti sambil tersenyum ramah ke arahku. Aku yakin mereka mengetahui bahwa senyum balasanku adalah senyum terpaksa selaku tuan rumah yang baik. Dan wajahku yang dipenuhi tanda tanya tentu saja terlukis jelas. Pantaslah Ibu tidak memberi wejangan seperti yang biasa beliau lakukan jika teman yang berkunjung adalah laki-laki. Ibu pasti berpikir bahwa mereka adalah teman satu kuliah yang ingin menanyakan tugas. Satu hal yang menjadi masalah adalah aku benar-benar tidak mengenal satupun dari mereka. Sehingga jantungku mulai berdebar semakin kencang. Bukan karena jatuh cinta pada cowok berbaju hitam yang memang cukup tampan. Namun aku takut mereka akan berbuat sesuatu yang membahayakan. Sesaat kami diam.

“Nesa udah lupa ya sama saya?” tanya cowok berbaju hitam tadi mencairkan suasana. Aku bingung menjawab pertanyaannya. Apakah aku harus jujur? Atau pura-pura kenal saja.

“Pasti sudah lupa. Sudah 3 tahun sejak perkenalan kita. Saya temannya Yoan, Hendri” lanjutnya.  Menjawab kebingungan yang sudah terukir jelas di wajahku dari tadi.

Hendri? Tidak mungkin. Dia begitu berbeda dibanding ketika kami masih SMA. Aku ragu.

“Hendri? Maaf nih, saya benar-benar lupa. Hendri yang mana ya?”. Lebih baik jujur saja pikirku, daripada nanti tertipu oleh keraguan sendiri.

“Kita kenalan saat kelas 3 SMA. Waktu itu sepulang sekolah Yoan ngajak saya, Nugi, dan teman lainnya ke sini. Kalau Nugi ingat?” tanya cowok yang mengaku bernama Hendri itu sekali lagi.

“Nugi saya tahu. Dia memang sering main ke sini” jawabku sekenanya.

Dulu Yoan memang sering main ke rumah sepulang sekolah bersama teman-temannya. Hal ini dikarenakan jarak SMA kami yang sangat dekat dengan rumahku. Cukup banyak teman Yoan yang kukenal. Tetapi tidak semuanya dapat kuingat. 

“Kabar terakhir yang saya dengar, sekarang Nugi sudah kerja di Riau. Dia nggak mau kuliah katanya”. Aku terdiam mendengar pernyataan terakhirnya.

Benar sekali. Nugi juga bilang begitu ketika menelponku 3 hari yang lalu. Artinya, kemungkinan besar ketiga cowok ini bukan penipu. Jantungku perlahan-lahan mulai normal. Suasana kembali bisu.

“Wajar kok kamu lupa. Saya, Yoan, dan kamu kan beda kelas. ” Hendri kembali memecah kebisuan. “Mmm… Gimana? Udah ingat?”

Anak ini ngotot juga. Bagaimana jika ternyata benar dia adalah Hendri teman Yoan, mantan pacarku. Bisa terjadi perang dingin antara kami berdua karena tidak meghormati temannya, dengan ‘alasan sudah lama putus’. Dan bagaimana jika ia memang Hendri? Seseorang yang pernah mencuri hatiku sebelum jadian dengan Yoan. Sosok yang menjadi salah satu bagian puzzle hidupku. Di sisi lain, ada kejanggalan yang kurasakan pada Hendri. Kedua temannya seperti aktivis kampus. Mereka berjenggot dan bercelana gantung. Di kampus mereka disebut ikhwan. Setahuku orang-orang seperti itu bisa dipercaya. Jadi, kurasa orang yang mengaku Hendri ini, juga jujur meskipun penampilannya belum menyamai kedua temannya. Mungkin dia sedang berada dalam masa peralihan menjadi ikhwan. Kita memang tidak boleh menilai orang lain melalui penampilan luarnya saja.  Beruntung sekali Hendri memiliki teman dekat yang tahu dengan agama.

            “Hendri?! Iya, iya. Maaf. Karena yang sering main ke sini cuma Nugi, jadi saya agak lupa sama kamu” jawabku.

 “Akhirnya kamu ingat juga, Nes. Dua orang lagi teman saya. Yang bajunya coklat, Roni. Dan yang hijau, Edo”. Hendri menambahkan dengan seyumnya yang mulai berseri. 

Suasana mulai bersahabat. Sehingga perbincangan mengalir dengan akrab. Rupanya Hendri dan kedua temannya juga kuliah di Padang. Bahkan kami satu kampus, sama-sama di Universitas Andalas (UNAND), tetapi beda jurusan. Mereka berdua jurusan Teknik Elektro dan aku Akuntansi. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya pukul 20.55 WIB mereka pamit.

***

Pagi harinya setelah kejadian malam itu, aku langsung mengirim sms ke Nugi. Aku lebih dekat dengan Nugi dibanding Yoan. Maklum sesama wanita biasanya lebih mudah memahami. Tidak lama kemudian sms balasan dari Nugi datang. Dia berkata bahwa nanti malam akan menelepon karena ada masalah penting yang harus dibicarakan. Menyangkut kedatangan Hendri yang sangat mendadak. Sekarang dia tidak bisa menelpon, sebab ada urusan kantor yang harus diseleseikan secepatnya. Sms itu membuat rasa penasaran makin menjalari tubuhku. Ada apa dengan Hendri?.

Hal ini menyebabkan pikiranku melayang ke masa SMA. Meskipun satu sekolah, aku dan Hendri jarang bertemu apalagi ngobrol. Namun setiap kali berpapasan, Hendri tak lupa menyapa. Ada  sinar lain yang kutangkap dari matanya saat mata kami bertemu. Seperti sinar yang dipancarkan Yoan saat menatapku. Mungkin cuma perasaanku saja. Namun, aku merasa sinar dari Hendri begitu dalam. Sayangnya, rasa itu perlahan-lahan lenyap saat jadian dengan Yoan. Apalagi setelah tamat SMA, rasa itu mulai hilang. Tapi kuakui bekasnya masih ada sampai saat ini.

***

Pukul 20.30 WIB. Telepon dari Nugi belum juga datang. Sudah 15 menit aku menunggu sembari tiduran di kamar. Masalah Hendri kembali menyita pikiran. Sulit kupercaya ada orang seperti dia. Mengapa dia tiba-tiba datang lagi ke dalam hidupku? Apa yang dia inginkan?. Dulu, susah payah aku melupakannya. Mencoba menata hati agar tetap suci dari cinta gombal. Sekarang prinsipku adalah menikah atau tidak sama sekali!.

HPku bergetar. Ada 1 sms masuk. Cepat-cepat kubuka, mungkin dari Nugi.

Aslkm. Nes, kalau setelah isya orangtuamu ada nggak? Hendri.

Hendri? Apa maksud pria ini menanyakan orangtuaku. Mungkinkah…. Tidak! Tidak mungkin ia langsung melamarku. Kami baru saja bertemu setelah sekian tahun. Tidakkah ia pikirkan bagaimana perasaanku setelah membaca smsnya itu. Menyesal  rasanya telah memberikan nomor HP kepadanya malam itu. Ya Tuhan, aku mulai berpikir ngawur. Bisa saja ia ingin menawarkan sebuah bisnis. Kuputuskan untuk membalas smsnya. Ibuku memang selalu ada tapi Ayahku menjaga Mini Market milik kami hingga pukul 21.000 WIB. Kecuali hari Minggu, beliau menjaga hanya sampai sore.

W3. InsyaALLAH ada, tapi hari minggu aja ya ke rumah.  

Entah kenapa, di bagian hati yang lain aku tidak sanggup untuk menolak kehadiran Hendri. Setengah hatiku itu juga selalu merindukannya. Bahkan, aku rela memutuskan hubungan spesial dengan Yoan ketika SMA dulu jika ia minta. Pikiranku terhenti saat mendengar HP berbunyi. Telepon masuk dari Nugi. Disinilah semuanya berubah. Menjadi lebih jelas. Dan merupakan awal lembaran baru hidupku.

***

Tiga Tahun Kemudian

            Hari ini perasaanku campur aduk. Rasa syukur, haru, bahagia, dan sedih menyatu dalam satu waktu. Karena akhirnya saat itu datang juga. Momen dimana orang yang aku impikan selama ini  memintaku secara resmi untuk menjadi pendampingnya dalam mengarungi kehidupan. Namun di sisi lain aku sedih, karena Hendri adalah teman Yoan. Aku tidak bisa membayangkan perasaannya setelah mendengar kabar ini. Semuanya kuserahkan kepada Sang Penguasa Alam.  

Semuanya menjadi terang melalui telpon Nugi malam itu.  Dia menceritakan semuanya. Bahwa Hendri sejak SMA sudah meneguhkan hatinya untuk satu wanita saja, yaitu Nesa Hidayat. Apalagi Hendri sangat dekat dengan tetanggaku yang membuka sebuah Warung Tegal (Warteg).  Hendri sering nongkrong di sana. Kata Nugi, tetanggaku yang bernama Pak badrun itu sering mempromosikan aku. Nesa orangnya baiklah, rajin ke mesjid, pintarlah, dan sebagainya. Aku jadi tertawa mendengar semua itu. Mudah-mudahan Yang Di Atas sana memberiikan nilai yang lebih baik lagi bagi diri ini. Hpku berbunyi. Satu sms masuk. Dari Nugi.

Aslkm. Sekali lagi selamat ya, Nes. Aku masih nggak ngira ada orang seperti Hendri. Diam-diam tapi melamar. Hehehe.  Menghanyutkan kalee. Kalau dah Jodoh memang nggak akan lari kemana. Dia begitu tertarik sama kamu, sejak SMA lhooo. Apalagi  Pak Badrun sering promo kecil-kecilan. Dia beruntung bisa mendapatkan wanita kayak kamu. Dan aku tahu bahwa kamu insyaALLAH juga beruntung mendapatkannya. Hendri adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Semoga jadi keluarga sakinah J. 

***

Advertisements