Ruhiyah Kader

Dakwah pada hakekatnya adalah sebuah keharusan. Bukan bagi ulama, ustad, atau kader-kader dari partai yang berbasis islam saja. Namun berdakwah adalah tugas setiap umat islam yang telah diterima sejak ia dilahirkan ke dunia.

Islam tidak pernah memaksa setiap orang untuk mengikuti ajarannya. Namun jika sudah masuk, maka setiap muslim wajib mematuhi setiap aturannya, yang pada dasarnya untuk kebaikan orang itu sendiri, baik untuk kebahagiaan dunia maupun akhirat. Hal ini ditegaskan dalam surat Al Baqarah ayat 256, yaitu “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama islam. Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada ALLAH, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus. ALLAH Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Oleh karena itu, satu hal harus disadari adalah umat manusia sendiri yang membutuhkan islam sebagai dasar bagi sistem kehidupan.

Namun demikian. islam tidak menutup diri terhadap manusia. Bahkan sebaliknya, agama yang langsung berasal dari ALLAH ini membuka kesempatan seluas-luasnya bagi umat manusia untuk mengimaninya. Hal ini dapat dilihat dari adanya dakwah dalam islam. Yaitu ALLAH sengaja mengutus kepada Nabi dan Rasul untuk menyeru manusia ke jalanNYA. Selanjutnya, ALLAH tetap ‘mengirimkan’ para penerus Nabi dan Rasul, yaitu para ulama dan dai untuk terus memberikan kesempatan memperoleh hidayahNYA.

Para penyeru dakwah ini disebut dengan kader atau dai. Dalam menjalankan tugasnya, dai membutuhkan ‘suplemen-suplemen’ agar tetap survive dalam jalan dakwah. Sebab, jalan dakwah bukanlah jalan yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah. Bukan jalan yang dipenuhi dengan kesenangan-kesenangan dunia. Namun, jalan dakwah adalah jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang tidak akan lepas dari darah dan airmata. Disitulah letak ujiannya. Hanya orang-orang yang berbekal keimanan yang disupport oleh suplemen-suplemen untuk ruhiyahnya yang dapat melewati jalan ini.

Salah satu supelemen yang dapat digunakan adalah amalan yaumi. Amalan yang menjadi kebutuhan, bukan kewajiban lagi. Amalan yang jika tidak dilaksanakan karena berbagai sebab, maka akan mendatangkan kerinduan untuk mengerjakannya. Amalan tersebut misalnya, sholat wajib tepat waktu, dan berjamaah di mesjid, puasa senin kamis, qiyamullail (sholat malam), solat dhuha, tilawah Al Qur’an (membaca Al Qur’an), membaca Al Ma’tsurat, membaca buku-buku bermanfaat, mengikuti halaqoh, olahraga, dan masih banyak lagi.

Selain itu, cara yang dapat ditempuh untuk menjaga kestabilan ruhiyah sang dai adalah dengan rutin mengikuti majlis-majlis yang dekat dengan ulama dan orang-orang sholeh, seperti majlis taklim, pelatihan-pelatihan islam, dsb.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: