Bermula Dari Keluarga

background-fs1Orang yang gagal membina hubungan di dalam rumah tangganya, dia tidak akan sukses membangun hubungan jangka panjang dengan orang lain dalam kehidupannya (M. Anis Matta)

Ya… bermula dari keluarga. Sebuah energi utama untuk bahagia. Keluargalah yang mengantarkan suksesmu, dimanapun kini engkau berada. Apa artinya sukses bila keluarga berantakan? Apa makna bahagia tanpa kehadiran keluarga?

  • Ada keluarga model pasar yang mengedapankan “pokoknya”, kaku dan saklek. Kayak zaman batu.
  • Ada keluarga yang dingin bagai kuburan, sepi tak berpenghuni seperti orang-orang mati, datang tak diundang, pulang tak diantar. Ngeri.
  • Ada keluarga model rumah sakit, berisi orang-orang berpenyakit, merasa paling berjasa dan perlu dikasihani. Kasihan.
  • Ada keluarga model hotel dan losmen, sekedar tempat makan, tidur, dan (maaf) hanya buang air besar. Hambar.
  • Namun, ada juga keluarga model sekolah, minimal kita memiliki model seperti ini. Saling asah, asih, dan asuh. Alhamdulillah…
  • Akan lebih baik lagi bila kita berkeluarga model mesjid. Mesjid sebagai profil peribadahan dan sholat yang menghidupkan ruh kehidupan.

® Ada wudhu sebagai cermin kebersihan niat dan ketulusan

® Ada imam dan makmum dalam kepemimpinan

® Ada takbir, pengagungan nilai Ilahiyah

® Ada sholat berjamaah, bukti kebersamaan dan kekompakan

® Ada rukuk dalam ketundukan

® Ada sujud dalam kepasrahan total penghambaan

® Ada Tahyat, yang saling mendo’akan.

® Ada salam, penebar kedaamian

Ø Subhanallah Wal Hamdulillah…

Bermula dari keluarga. Di dalam buku The 1oo Simple Secrets of Happy Families disebutkan, para peneliti mempelajari bahwa hubungan keluarga yang terbuka dan menyenangkan menjadi faktor penentu dan kekuatan untuk menilai dan mengembangkan kepribadian.

Bermula dari keluaga. Kita melakukan pendidikan untuk menciptakan kebahagiaan. Cara bersahabat dengan keluarga akan sangat mempengaruhi pembentukan karakter, khususnya karakter anak.

Bermula dari keluarga. Kita dapatkan kekuatan untuk menempuh kehidupan. Kewajiban untuk kembali menelisisk diri, sudahkah kita optimal dalam berbakti dan membahagiakan orangtua? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk anak-anak dengan perhatian yang nyata? Untuk saudara-saudari kita?

Hubungan seorang Ayah dengan anaknya dan berteman dengan mereka sangat berpengaruh terhadap jiwa dan karakter anak selama hidup

(Dr. Benyamin Sabuk, “Undang-undang Seorang Ibu”, terj. Muhammad SAW Ayah dan Guruku, hlm.4)

Sumber : Solikhin Abu Izzudin dan Dewi Astuti, “The Great Power of Mother Inspirasi Dasyat Dunia Akhirat”, hlm. 46-49 – dengan pengubahan seperlunya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: