Training Cinta?

Mang ada?

Ada ternyata… saat melihat pamfletnya di Bus Kampus, aku langsung tertarik dengan Training yang satu ini.  Langsung daftar dan datang di hari H.

TMJC namanya. Training Merah Jambu Cinta, Kekuatan Cinta Yang Sebenarnya. Digelar pada hari Sabtu, 28 Februari. Dari pukul 09. WIB – 15.30 WIB di Gedung E 1.1 Universitas Andalas Padang. Baru beberapa jam yang lalu…

Wah, acaranya seru bgt3x… Alhamdulillah 101x…. Ternyata makna cinta itu sangat suci.

Advertisements

Seminar Nasional Matematika

Padang – Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA) Fmipa Universitas Andalas (Unand) kemarin (Rabu, 18 Februari 2009) menggelar Seminar Nasional Matematika, dengan tema “Penggunaan Metode Improve Untuk Meningkatkan Pemahaman dan Aktivitas Pembelajaran Matematika” . Seminar ini adalah salah satu rangkaian acara Pekan Seni Bermatematika (PSB). Tahun ini adalah PSB yang keenam dan seminar nasional yang kedua.

Peserta seminar berasal dari guru Matematika SMP dan SMA se-Sumatera, Mahasiswa, Dosen, dan Masyarakat Umum. Jumlah yang hadir 111 orang. Pemateri utamanya adalah Dr. M. Salman A. N, Lektor Kepala Jurusan Matematika ITB. Sedangkan pemateri kedua adalah Dr. I made Arnawa, dosen Matematika Unand. Acara dimulai pukul 10.30 – 15.00 WIB. Berlangsung lancar hingga akhir dan tidak terdapat gangguan yang berarti.

Materi yang diangkat oleh bapak Dr. M. Salman adalah Pembelajaran Matematika Menyenangkan sedangkan bapak Dr. I Made A mengangkat judul Pembelajaran Matematika Berbasis Komputer. Saat seorang peserta dari Guru SMP dimintai pendapatnya, beliau mengaku bahwa seminar tahun ini sangat bagus, apalagi penyajian dari Bapak M. Salman.

Sukses buat HIMATIKA 🙂

Rahasia Sukses

Sudah hampir 1 minggu tidak update postingan di blog. Karena minggu ini aktivitasku cukup banyak. Berikut ada Rahasia Sukses dari 2 orang pakar yang telah berada pada kursi sukses. Kupetik dari buku The Great Power of Mother.

Rahasia Sukses dari Hisyam Said – Pengusaha Paparons Pizza

1. Kerja keras

2. Minta doa restu orang tua

3. Jangan lepas dari Al Qur’an

4. Jangan lupa bersedakah (biar sedikit, yang penting rutin)

Rahasia sukses dari Fadel Muhammad – Gubernur Gorontalo

1. Kemauan yang kuat

2. Rasa percaya diri yang tinggi

3. Kemampuan menghitung resiko

3 hal di atas mempengaruhi dan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :

  • Orang tua, terutama Ibu
  • Pendidikan
  • Lingkungan
  • Keberuntungan atas membaca kesempatan

Ruhiyah Kader

Dakwah pada hakekatnya adalah sebuah keharusan. Bukan bagi ulama, ustad, atau kader-kader dari partai yang berbasis islam saja. Namun berdakwah adalah tugas setiap umat islam yang telah diterima sejak ia dilahirkan ke dunia.

Islam tidak pernah memaksa setiap orang untuk mengikuti ajarannya. Namun jika sudah masuk, maka setiap muslim wajib mematuhi setiap aturannya, yang pada dasarnya untuk kebaikan orang itu sendiri, baik untuk kebahagiaan dunia maupun akhirat. Hal ini ditegaskan dalam surat Al Baqarah ayat 256, yaitu “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama islam. Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada ALLAH, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus. ALLAH Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Oleh karena itu, satu hal harus disadari adalah umat manusia sendiri yang membutuhkan islam sebagai dasar bagi sistem kehidupan.

Namun demikian. islam tidak menutup diri terhadap manusia. Bahkan sebaliknya, agama yang langsung berasal dari ALLAH ini membuka kesempatan seluas-luasnya bagi umat manusia untuk mengimaninya. Hal ini dapat dilihat dari adanya dakwah dalam islam. Yaitu ALLAH sengaja mengutus kepada Nabi dan Rasul untuk menyeru manusia ke jalanNYA. Selanjutnya, ALLAH tetap ‘mengirimkan’ para penerus Nabi dan Rasul, yaitu para ulama dan dai untuk terus memberikan kesempatan memperoleh hidayahNYA.

Para penyeru dakwah ini disebut dengan kader atau dai. Dalam menjalankan tugasnya, dai membutuhkan ‘suplemen-suplemen’ agar tetap survive dalam jalan dakwah. Sebab, jalan dakwah bukanlah jalan yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah. Bukan jalan yang dipenuhi dengan kesenangan-kesenangan dunia. Namun, jalan dakwah adalah jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang tidak akan lepas dari darah dan airmata. Disitulah letak ujiannya. Hanya orang-orang yang berbekal keimanan yang disupport oleh suplemen-suplemen untuk ruhiyahnya yang dapat melewati jalan ini.

Salah satu supelemen yang dapat digunakan adalah amalan yaumi. Amalan yang menjadi kebutuhan, bukan kewajiban lagi. Amalan yang jika tidak dilaksanakan karena berbagai sebab, maka akan mendatangkan kerinduan untuk mengerjakannya. Amalan tersebut misalnya, sholat wajib tepat waktu, dan berjamaah di mesjid, puasa senin kamis, qiyamullail (sholat malam), solat dhuha, tilawah Al Qur’an (membaca Al Qur’an), membaca Al Ma’tsurat, membaca buku-buku bermanfaat, mengikuti halaqoh, olahraga, dan masih banyak lagi.

Selain itu, cara yang dapat ditempuh untuk menjaga kestabilan ruhiyah sang dai adalah dengan rutin mengikuti majlis-majlis yang dekat dengan ulama dan orang-orang sholeh, seperti majlis taklim, pelatihan-pelatihan islam, dsb.

Kembalilah

Dakwah. Satu kata yang gampang diucapkan namun memiliki konsekuensi besar dibelakangnya. Mudah bagi yang benar-benar mengikhlaskan diri kepada ALLAH SWT dan sebaliknya, sangat berat bagi orang-orang yang belum memahami hakekat dakwah itu sendiri.

Dakwah. Begitu ringan lidah mengatakannya. Akan tetapi, pengorbanan harta dan jiwa yang tulus karena mengharapkan ridho Sang Pencipta merupakan substansi perjuangan dakwah. Sehingga pada akhirnya, dakwah dapat menyaring kaum munafik dari barisan kaum mukminin. Hanya orang-orang yang beriman kepadaNYA yang sanggup mengorbankan semua itu.

Dakwah adalah menyeru manusia ke jalan ALLAH dengan hikmah dan keteladanan yang baik, sehingga mengingkari Thagut (sesuatu yang dicintai/dipuja/diutamakan melebihi kecintaan kepada ALLAH) dan beriman kepadaNYA, menuju masyarakat madani. Pelaku dakwah disebut dengan da’i. Dan setiap umat islam pada hakekatnya adalah da’i. Dalam prakteknya, da’i sering juga disebut dengan kader. Berangkat dari definisi dakwah tadi, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa mustahil dakwah dapat dilakukan jika seorang kader belum dapat menjadi contoh yang bagus di tengah-tengah objek dakwah, yang dalam kasus rill adalah masyarakat. Mustahil dakwah dapat diwujudkan jika para kader masih terlena dengan Thagut yang memiliki topeng yang berbeda-beda pada setiap pribadi kader, misalnya kedudukan, wanita atau laki-laki, materi, dsb. Dan sangat mustahil dakwah akan ada jika iman sang kader masih dipertanyakan.

Sepintas dilihat, perjuangan dakwah memang sangat berat. Namun, ALLAH sudah berjanji akan membalas semua pengorbanan itu dengan balasan yang berlipat-lipat ganda, diantaranya pahala, kedudukan yang mulia di sisiNYA, mati syahid, dan lain sebagainya, dimana balasan yang paling menggiurkan dari semuanya adalah surga. Dan puncaknya yaitu bertemu dengan ALLAH SWT (Allahu Akbar!). Oleh karena itu, perjalanan dakwah tidak bertaburan dengan ‘bunga-bunga’ yang indah, makanan yang lezat, materi yang berlimpah, dan kesenangan-kesenangan dunia lainnya, namun perjalanan ini tidak akan lepas dari derita dan air mata, tetapi berujung dalam kesenangan yang maha sempurna dan abadi, surga.

Ada beberapa karakter yang harus dimiliki oleh seorang kader sejati, antara lain :

  1. Salimul Akidah (akidah yang selamat)
  2. Shahihul Ibadah (ibadah yang sahih)
  3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
  4. Qowiyyul Jism (jasad yang kuat)
  5. Mutsaqoful Fikri (wawasan yang luas)
  6. Qodirun ‘Alal Kasbi (berpenghasilan)
  7. Haritsun ‘Ala Waqtihi (memanajemen waktu)
  8. Munazhan Fi Syu’unihi (teratur dalam urusan)
  9. Mujahidu Linafsihi (bersungguh terhadap diri)
  10. Nafiun Lighairihi (bermanfaat bagi orang lain)

Sebagaimana sholat yang mempunyai 13 rukun, dalam berdakwah ada 10 rukun baiat, yaitu :

  1. Al Fahmu (faham)
  2. Al Ikhlas (ikhlas)
  3. Al Amal (amal)
  4. Al Jihad (jihad)
  5. Tadhhiyah (pengorbanan)
  6. Thoat (taat)
  7. Tsabat (teguh)
  8. Tajarrud (totalitas)
  9. Ukhuwah (ukhuwah)
  10. Tsiqoh (percaya)

Dalam prakteknya, dakwah memiliki metode yang jelas, yang disebut dengan manhaj dakwah. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar pergerakan dan perjuangan ini terlaksana secara teratur dan terencana. Sehingga tujuan dakwah dapat tercapai, yaitu islam menjadi pemimpin dunia ini. Cita-cita tersebut tentu saja membutuhkan proses yang tidak instan. Oleh karena itu, umat islam harus disadarkan terlebih dahulu bahwa mereka semua adalah da’i atau kader bagi agamanya. Sementara itu, dalam pelaksanaan manhaj dakwah itu sendiri, semua kader harus bekerja sama, atau sering disebut dengan amal jama’i. Inilah kemurnian dakwah yang sebenarnya. Jika semua kader (baca : umat islam) dapat bersatu dan kembali pada hakekat dakwah, maka tujuan dakwah dapat terwujud. Wallahu’a’lam.

Berlabuh di Perpustakaan Kampus

Kecewa, sedih, dan kesal. Rasa itu bercampur menjadi satu saat aku sampai di Auditorium Sayap Timur Kampusku. Seharusnya sebuah pelatihan sedang berlangsung disini. Pelatihan yang akan kuikuti selama 3 hari di ruangan yang ada di depan mata kepalaku ini. Namun, sesampai di lokasi yang tertera di undangan, ternyata tidak ada seorangpun. Baik panitia maupun pesertanya. Kemana? Apakah lokasi pelatihan dipindahkan? Kenapa tidak ada konfirmasi? Padahal panitia tahu nomor HPku!.

Kulihat sekali lagi undangan pelatihan itu. Kuperiksa juga sekarang hari apa dan tanggal berapa. Semuanya benar. Tanggal, hari, dan tempatnya cocok kok. Jadi? Apa yang sedang terjadi? Aku bingung. Coba anda bayangkan, anda sedang berada di kawasan yang sangat besar seorang diri di pagi hari? Pulsa habis. Uangku pas-pasan. Hanya cukup untuk ongkos pulang dan beli snack. Maklum akhir minggu aku sering boke’. Secara, pelatihannya kan sampai sore, jadi prediksiku panitia akan menyediakan lunch. Kutunggu beberapa saat. Detik menjadi menit. Menit menjadi jam. Aku terus berdoa agar setidaknya salah seorang panitia muncul dan menjelaskan apa yang sedang terjadi. Setelah lebih kurang setengah jam aku menyerah. Aku memutuskan pergi dari sana menuju fakultasku. Aku melewati jalur yang melalui pustaka pusat kampusku. Iseng-iseng, timbul pikiran untuk istirahat sejenak di sana. Minimal melapas rasa kecewa.

Sesampai di koridor, aku langsung mencari bangku kosong. Mengeluarkan agendaku dan mulai curhat tentang apa yang sedang aku alami barusan. Tiba-tiba, ada seorang Bapak datang. Menawarkan main internet gratis. Wow? lumayan neh… Tanpa pikir panjang aku dan beberapa mahaiswa yang lagi nongkrong disana menerima tawaran sang bapak.

Yup… akhirnya, aku berlabuh disini 🙂

Bermula Dari Keluarga

background-fs1Orang yang gagal membina hubungan di dalam rumah tangganya, dia tidak akan sukses membangun hubungan jangka panjang dengan orang lain dalam kehidupannya (M. Anis Matta)

Ya… bermula dari keluarga. Sebuah energi utama untuk bahagia. Keluargalah yang mengantarkan suksesmu, dimanapun kini engkau berada. Apa artinya sukses bila keluarga berantakan? Apa makna bahagia tanpa kehadiran keluarga?

  • Ada keluarga model pasar yang mengedapankan “pokoknya”, kaku dan saklek. Kayak zaman batu.
  • Ada keluarga yang dingin bagai kuburan, sepi tak berpenghuni seperti orang-orang mati, datang tak diundang, pulang tak diantar. Ngeri.
  • Ada keluarga model rumah sakit, berisi orang-orang berpenyakit, merasa paling berjasa dan perlu dikasihani. Kasihan.
  • Ada keluarga model hotel dan losmen, sekedar tempat makan, tidur, dan (maaf) hanya buang air besar. Hambar.
  • Namun, ada juga keluarga model sekolah, minimal kita memiliki model seperti ini. Saling asah, asih, dan asuh. Alhamdulillah…
  • Akan lebih baik lagi bila kita berkeluarga model mesjid. Mesjid sebagai profil peribadahan dan sholat yang menghidupkan ruh kehidupan.

® Ada wudhu sebagai cermin kebersihan niat dan ketulusan

® Ada imam dan makmum dalam kepemimpinan

® Ada takbir, pengagungan nilai Ilahiyah

® Ada sholat berjamaah, bukti kebersamaan dan kekompakan

® Ada rukuk dalam ketundukan

® Ada sujud dalam kepasrahan total penghambaan

® Ada Tahyat, yang saling mendo’akan.

® Ada salam, penebar kedaamian

Ø Subhanallah Wal Hamdulillah…

Bermula dari keluarga. Di dalam buku The 1oo Simple Secrets of Happy Families disebutkan, para peneliti mempelajari bahwa hubungan keluarga yang terbuka dan menyenangkan menjadi faktor penentu dan kekuatan untuk menilai dan mengembangkan kepribadian.

Bermula dari keluaga. Kita melakukan pendidikan untuk menciptakan kebahagiaan. Cara bersahabat dengan keluarga akan sangat mempengaruhi pembentukan karakter, khususnya karakter anak.

Bermula dari keluarga. Kita dapatkan kekuatan untuk menempuh kehidupan. Kewajiban untuk kembali menelisisk diri, sudahkah kita optimal dalam berbakti dan membahagiakan orangtua? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk anak-anak dengan perhatian yang nyata? Untuk saudara-saudari kita?

Hubungan seorang Ayah dengan anaknya dan berteman dengan mereka sangat berpengaruh terhadap jiwa dan karakter anak selama hidup

(Dr. Benyamin Sabuk, “Undang-undang Seorang Ibu”, terj. Muhammad SAW Ayah dan Guruku, hlm.4)

Sumber : Solikhin Abu Izzudin dan Dewi Astuti, “The Great Power of Mother Inspirasi Dasyat Dunia Akhirat”, hlm. 46-49 – dengan pengubahan seperlunya